Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan tidak hanya bertatap muka saja tapi bisa dengan cara apapun yang di dapat.

My Life is Adventure

Petualang merupakan cara menikmati keindahan alam yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Petualang tak harus tempat yang mewah hutan, pantai, air terjun merupakan keindahan yang tak tertandingi.

Disiplin Berani dan Setia

Disiplin waktu, peraturan, Berani mengambil resiko tapi harus terukur, dan Setia.

Anak adalah Generasi Emas

Anak adalah generasi emas yang harus di didik dengan keteladan supaya terbentuk moral dan mental yang baik.

................

Semangat.

Tampilkan postingan dengan label Manajemen Berbasis Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Berbasis Sekolah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BARU MANAJEMEN KELAS, MANAJEMEN KELAS BERBASIS IT, DAN PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.

MANAJEMEN KELAS BAGI GURU PEMULA



MAKALAH
MANAJEMEN KELAS BAGI GURU PEMULA
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Kelas
Dosen Pengampu: Dr. Rokhmaniyah, M.Pd.



 
Disusun oleh :
1.    May Winarsih         (K7110542)
2.    Meyliani Wiguna    (K7110543)
3.    Sofia Apriyati         (K7110563)
4.    Tri Susanti              (K7110572)
Kelompok 6 / V B



PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012

Asas dan Prinsip Manajemen Kelas serta Faktor yang Mempengaruhi



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah
Pemegang kendali dalam kelas ialah guru. Guru menjadi pengendali kemana arah tujuan pembelajaran di kelas akan tercapai. Dalam mengarahkan pembelajaran tersebut agar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dibutuhkan kompetensi yang baik dari guru dalam mengelola kelas dengan baik. Pengelolaan kelas mencakup pengelolaan dalam pembelajaran maupun pengelolaan kondisi fisik lingkungan kelas tersebut.
Keharusan mengelola kelas dengan baik menuntut kemampuan kekreativitasan dari guru untuk mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada di kelas sehingga mampu mencipta pembelajaran yang produktif, efektif, dan efesien dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan . Kekreativitasan guru dalam upaya pencapaian tujuan tersebut tetap didasarkan pada aspek-aspek dasar pengelolaan kelas yaitu asas manajemen kelas, prinsip manajemen kelas maupun faktor-faktor dalam manajemen kelas.

Pendekatan Manajemen Kelas



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Hal itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas. Masalah pengajaran berkaitan dengan segala usaha untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Melalui pendekatan-pendekatan dan metode serta aspek-aspek manajemen kelas, akan memberikan kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas.

Rabu, 04 Juni 2014

PELAPORAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan landasan vital pembentuk karakter bangsa atau dapat sebagai masa depan bangsa. Dibutuhkan manusia yang ‘sadar’ akan haknya sebagai jiwa terdidik dengan moral serta perannya dalam kehidupan yang beradab. Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.
Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan sarana/prasarana pendidikan, serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagaian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.

KUNCI KEBERHASILAN MBS



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam mengupayakan penyelenggaraan pendidikan dalam dunia pendidikan, pemerintah telah mengadakan dan memberdayakan sekolah dengan melalui pemberian otonomi  kepada sekolah yaitu dengan program Manajemen Berbasis Sekolah.
MBS mengacu dalam pemberian wewenang sepenuhnya kepada sekolah. sehingga sekolah dapat mengelola segala kebutuhan yang ada di lingkungan sekitar sesuai dengan kebutuhan peserta didik, terutama dalam dunia pembelajaran agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Penerapan MBS sudah diselenggarakan dari berbagai sekolah. sekolah telah berupaya bagaimana untuk menyukseskan program MBS. Upaya MBS juga merupakan salah satu kunci keberhasilan sekolah dalam  dunia pendidikan. Kunci keberhasilan MBS di sekolah juga tergantung dari proses bagaimana input menjadi output yang mempunyai daya saing.

INSTRUMEN SUPERVISI 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETESI LULUSAN



INSTRUMEN SUPERVISI 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETESI LULUSAN

 FILE WORD DAPAT DIUNDUH DI SINI

Nama Madrasah                      : …………………………
Nama Kepala Madrasah          : …………………………
Alamat Madrasah/Kota           : …………………………

No
Aspek
No
Indikator & Sub Indikator
Skor
0
1
2
3
4
1
Kepemilikan Dokumen KTSP
1
Dokumen KTSP berlaku dg disahkan Kepala Madrasah dengan pertimbangan Komite & diketahui Kasi/Kabid Mapenda





2
KTSP disusun dg mempertahankan acuan operasional yang terdiri atas:
a.   agama
b.   peningkatan iman & taqwa serta akhlak mulia
c.   persatuan nasional & nilai kebangsaan
d.  .............





3
Proses penyusunan Dokumen:
a.   membentuk Tim KTSP disertai uraian tugas masing-masing
b.   ………….





2
Komponen KTSP
4
4.1 Visi, Misi dan Tujuan Satuan pendidikan & Strategi
4.2 Struktur & Muatan Kurikulum
4.3 Kalender Pendidikan
4.4 Penyusunan Pengembagan Silabus
4.5 Ada program penigkatan mutu lulusan






Jumlah skor     : ……………                                      NILAI             : ……………
                                                                                    KRITERIA     : …………….

MONITORING, EVALUASI, KOORDINASI DAN SUPERVISI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kualitas Pendidikan sebagai salah satu pilar Pengembangan Sumber Daya Manusia, sangat penting maknanya bagi Pembangunan Nasional, yaitu dalam rangka membangun masyarakat yang kokoh dan ekonomi yang kompetitif di masa depan. Pendidikan merupakan landasan vital pembentuk karakter bangsa atau dapat sebagai masa depan bangsa. Dibutuhkan manusia yang ‘sadar’ akan haknya sebagai jiwa terdidik dengan moral serta perannya dalam kehidupan yang beradab. Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan sarana/prasarana pendidikan, serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.

Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
.Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) telah menjadi salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk digunakan sebagai aplikasi alat bantu pembuatan keputusan dalam pengenalan program-program baru di lembaga pendidikan. Proses penggunaan manajemen analisis SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) program, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan threats (peluang/kesempatan). Pengujian eksternal dan internal yang terstruktur adalah sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan kurikulum lembaga pendidikan.

CONTOH RENCANA PENGEMBANGAN VISI, MISI, TUJUAN SEKOLAH




Sekolah X merumuskan rencana pengembangan sekolah yang terdiri beberapa tahap yaitu:
1.        Tantangan Nyata Sekolah
Sekolah X melihat tantangan nyata pada saat ini yaitu berupa berkembangnya     IPTEKS yang belum diimbangi dengan pendidikan karakter. Banyak orang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, tetapi mereka tidak memiliki moral yang baik. Tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, disamping itu pendidikan juga harus dapat menciptakan manusia yang berkarakter. Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut mampu mengahasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual dan baik secara moral.

MENYUSUN KALIMAT TANTANGAN, VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN MANAJEMEN BERBASISI SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Salah satu aspek penting dalam implementasi MBS adalah perencanaan. Perencanaan merupakan titik tolak pengembangan sekolah ke depan. Perencanaan adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber-sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam rencana pengembangan sekolah, sekolah harus mempertimbangkan dan memperhatikan peluang, ancaman dari lingkungan eksternal, memperhatikan kekuatan serta kelemahan internal.

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu strategi wajib yang Indonesia tetapkan sebagai standar dalam  mengembangkan keunggulan  pengelolaan sekolah. Penegasan ini dituangkan dalam USPN Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 51 ayat 1 bahwa pengelolaan satuan pendidikan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. MBS merupakan model aplikasi manajemen institusional yang mengintegrasikan  seluruh sumber  internal dan eksternal  dengan lebih menekankan pada pentingnya menetapkan kebijakan melalui  perluasan otonomi sekolah.  Sasarannya adalah mengarahkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan dalam rangka mencapai tujuan. Spesifikasinya berkenaan dengan visi, misi, dan tujuan yang dikemas dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan.

EVALUASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sekolah yang menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah memiliki kewenangan untuk mengatur sendiri sekolahnya itu agar dapat mencapai tujuan. Dengan kata lain, sekolah tersebut berhak untuk memberdayakan potensi yang dimilikinya baik itu potensi warga sekolah maupun potensi masyarakatnya. Dengan demikian maka kepemimpinan dan tata pengelolaan yang dimiliki haruslah menunjang untuk keberhasilan tujuan yang telah ditetapkan
Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam MBS. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam mening­katkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menun­jukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam meng­arahkan dan memotivasi individu untuk bekerja sama dalam kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.

KEGIATAN / MACAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan memiliki arti yang sangat luas dan menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat memiliki kelebihan sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah dan kesulitan hidup. Posisi pendidikan merupakan pembangun, pembentuk, dan pengembang manusia.
Arus globalisasi menuntut manusia untuk memiliki pendidikan memadai agar mampu bersaing. Sayangnya, Indonesia masih dihadapkan dengan fakta-fakta mengenai rendahnya mutu pendidikan Indonesia dalam (http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan), antara lain:
1.              Setiap menit, empat anak putus sekolah
2.              54% guru tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk mengajar
3.              34% sekolah kekurangan guru
4.              Persebaran guru tidak merata
5.              Education Development Index (EDI) berada pada posisi ke-69 dari 127 negara.

KONSEP PENDIDIKAN MASA DEPAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.

KARAKTERISTIK MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manajemen Berbasis Sekolah atau sering disebut sebagai MBS merupakan suatu paradigma baru dalam pendidikan di Indonesia. Manajemen Berbasis Sekolah memungkinkan adanya pengembangan pendidikan yang mampu mencetak generasi-generasi unggulan yang mampu bersaing dalam dunia global. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) mendasarkan pada adanya otonomi yaitu adanya kebebasan tiap daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan apa-apa yang dipunyai termasuk dalam hal pendidikan.
Manajemen Berbasis Sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi, yang ditunjukkan dengan pernyataan politik dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro, meso, dan mikro.

KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain memlalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan sarana/prasarana pendidikan, serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagaian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan. Namun, sebagian lainnya masih memprihatinkan. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.