Minggu, 03 Maret 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Jurnal refleksi ini saya tulis setelah saya mengikuti dan mempelajari modul 3.2. dengan topik Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam menulis jurnal, saya menggunakan model 4F, yakni Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan). 


Berikut jurnal refleksi dwimingguan modul 3.2. dengan topik Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

1. Fact (Peristiwa)

Saya memulai mempelajari modul 3.2. dengan topik Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya di LMS dengan alur MERDEKA, yakni:

a. Mulai dari Diri 

saya mulai mempelajari modul 3.2 dengan topik Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan mengerjakan tugas yang ada di bagian Mulai dari Diri. Tujuan kegiatan Mulai dari Diri adalah mengingat kembali faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Ada 7 pertanyaan yang harus saya jawab dalam kegiatan ini. 


b. Eksplorasi Konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya belajar di LMS tentang penjelasan sekolah sebagai ekosistem yang di dalamnya terdapat unsur biotik dan abiotik. Unsur biotik contohnya adalah guru, tenaga administrasi sekolah, siswa, kepala sekolah, komite, dan lain-lain. Sementara itu, unsur abiotik terdiri atas bangunan sekolah, lapangan/halaman sekolah, aula, toilet, komputer, papan tulis, dan lain-lain. Saya juga mempelajari pendekatan berbasis aset dan pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development). Saya juga mempelajari aset-aset yang ada dalam komunitas yang terdiri atas tujuh modal aset, yakni modal manusia, fisik, lingkungan alam, sosial, agama-budaya, politik, dan finansial. Di eksplorasi konsep ini saya juga menganalisis 2 kasus yang di dalamnya terdapat masalah yang dihadapi dengan pendekatan yang berbeda.


c. Ruang Kolaborasi

Ruang kolaborasi di modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok dan yang kedua adalah presentasi hasil diskusi tersebut. Semua itu dilakukan secara daring melalui Gmeet. 

d. Demonstrasi Kontekstual

Demonstrasi kontekstual dijadwalkan pada tanggal 8 dan 9 Mei 2023. Di bagian ini saya mendapatkan tugas dengan tujuan:

1)  menganalisis tentang visi dan prakarsa perubahan dari tayangan video praktik baik yang ada.

2) mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan B - A - G - J - A dari tayangan video yang ada.

3) mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran dari tayangan video.

4) menganalisis modal utama apa saja yang dimanfaatkan contoh video praktik baik ini.

e. Elaborasi Pemahaman

Tujuan elaborasi pemahaman di modul 3.2. adalah calon guru penggerak dapat mengelaborasi pemahamannya tentang strategi pengelolaan sumber daya melalui proses tanya jawab dan diskusi menggunakan moda konferensi daring dengan instruktur. Saya melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet. Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Akhmad Waras.


f. Koneksi Antar-Materi

Di bagian koneksi antarmateri Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya membuat simpulan, keterkaitan dengan modul lainnya, dan refleksi. Hasil koneksi antarmateri modul 3.2. saya tuangkan dalam video berikut. 

g. Aksi Nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 3.2 yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya mengidentifikasi aset yang ada di sekolah berkolaborasi dengan kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan siswa.


2. Feeling (Perasaan)

Selama saya mempelajari Modul 3.1., saya merasakan perasaan yang semangat dan senang. Saya bersemangat karena di modul 3.1. saya belajar mengenai dilema etika, prinsip pengambilan keputusan, sampai langkah dan pengujian pengambilan keputusan. Saya senang karena saya cukup banyak memahami materi dalam modul ini, 


3. Findings (Pembelajaran):

Di Modul 3.2. tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya banyak mendapat pembelajaran tentang tata cara mengidentifikasi dan mengelola aset. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

a. Murid

b. Kepala Sekolah

c. Guru

d. Staf/Tenaga Kependidikan

e. Pengawas Sekolah

f. Orang Tua

g. Masyarakat sekitar sekolah

h. Dinas terkait

i. Pemerintah Daerah

Ada dua pendekatan yang dipelajari dalam modul 3.2. ini, yakni pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Kita mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium.  Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus kita adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep praktis untuk menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Ada lagi pendekatan yang dipelajari di modul 3.2., yakni Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA). Pendekatan ini menekankan kemandirian suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian,  hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.  PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development.

Di modul 3.2. dipelajari juga tentang aset-aset yang ada dalam komunitas yang terdiri atas tujuh modal aset, yakni modal manusia, fisik, lingkungan alam, sosial, agama-budaya, politik, dan finansial.

4. Future (Penerapan)

Setelah memahami materi modul 3.2. saya akan menerapkan ilmu yang saya pelajari di dalamnya. Saya akan menerapkan pendekatan berbasis aset jika dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus diselesaikan atau perencanaan program yang akan dilaksanakan. Saya akan lebih detail lagi dalam mengidentifikasi dan mengelola aset yang ada di sekolah untuk mendukung terwujudnya atau terlaksana kegiatan yang hasilnya berdampak positif bagi siswa. 

0 komentar:

Posting Komentar