Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan tidak hanya bertatap muka saja tapi bisa dengan cara apapun yang di dapat.

My Life is Adventure

Petualang merupakan cara menikmati keindahan alam yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Petualang tak harus tempat yang mewah hutan, pantai, air terjun merupakan keindahan yang tak tertandingi.

Disiplin Berani dan Setia

Disiplin waktu, peraturan, Berani mengambil resiko tapi harus terukur, dan Setia.

Anak adalah Generasi Emas

Anak adalah generasi emas yang harus di didik dengan keteladan supaya terbentuk moral dan mental yang baik.

................

Semangat.

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

PARTISIPASI ORANGTUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA




TUGAS INDIVIDU
PARTISIPASI ORANGTUA
TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

Mata Kuliah                : Pendidikan Pengembangan Masyarakat
Dosen Pengampu        : Drs. Suripto, M.Pd



 



Disusun Oleh :
Syukron Zahidi Arrahmi
K7110567 / 28
Kelas B / Semester V


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012

Rabu, 04 Juni 2014

PENDIDIKAN KEDINASAN



A.    Landasan Pendidikan Kedinasan
Dalam suatu pelaksanaan pendidikan manapun tentunya memiliki landasan sebagai pedoman dalam pelaksanaannya, salah satunya yaitu dalam pendidikan kedinasan. Pendidikan kedinasan juga mempunyai landasan yuridis, yaitu sebagai berikut:
1.        Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan.
2.        Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 160 Tahun 2004 Tentang Kurikulum Pendidikan Kedinasan dalam Departemen dalam Negeri.

PENDIDIKAN PROFESI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan IPTEKS yang mendunia sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan segala aspek kehidupan. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus oleh semua elemen masyarakat.
Pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peran pokok dalam membentuk generasi mendatang, yang diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas dan bertanggung jawab serta mampu mengantisipasi masa depan. Pendidikan dalam maknanya yang luas senantiasa menstimulir perkembangan manusia dan berupaya untuk senantiasa mengantar dan membimbing perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan manusia.

Pendidikan Seks di Sekolah Dasar



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berbicara mengenai seks merupakan topik yang sangat menarik, terutama bagi kaum remaja dan dewasa. Sebenarnya, bukan hanya remaja dan orang dewasa saja yang perlu diberi pengetahuan mengenai pendidikan seks, pendidikan seks perlu diberikan sedini mungkin, bahkan sejak usia anak-anak. Terkait maraknya kasus-kasus pelecehan seksual pada anak dibawah umur maupun dewasa, dunia prostitusi, seks bebas di kalangan remaja maupun dewasa, bahkan di kalangan anak-anak dibawah umur yang kerap terjadi baru-baru ini. Oleh karena itu, pendidikan seks sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi muda kita supaya tetap waspada dan berada di jalan yang benar, bertindak sesuai nilai moral, agama dan budaya yang berlaku.

PENDIDIKAN PESANTREN



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan pendidikannya. Tetapi pendidikan di Indonesia sama sekali belum sepenuhnya tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah. Output yang dikeluarkan pun tidak seperti apa yang telah menjadi tujuan pendidikan.
Di Indonesia terdapat tiga macam lembaga pendidikan, yaitu sekolah umum, madrasah dan pesantren. Antara madrasah dan sekolah umum tidak banyak perbedaannya. Akan tetapi, lembaga yang satunya yaitu pesantren, adalah lembaga yang jauh berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Pendidikan diselenggarakan bertujuan untuk  membentuk manusia yang memanusiakan manusia. Artinya, penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan pada pembentukan perilaku yang baik. Karena itulah hampir seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia ini terdapat muatan materi tentang akhlakul karimah. Diharapkan output-output yang dihasilkan nantinya di samping berintelektual tinggi, juga mempunyai budi pekerti yang baik sehingga menjadi teladan bagi masyarakatnya.

KONSEP PENDIDIKAN DAN PELATIHAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Peningkatan kualitas, efektifitas dan efesiensi tidak hanya tergantung pada teknologi mesin-mesin modern, modal yang cukup dan adanya bahan baku yang bermutu saja. Namun semua faktor tersebut tidak akan terjadi apa-apa tanpa adanya dukungan dari sumber daya manusia yang baik dan bisa mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka serta dapat menunjukkannya dalam peningkatan grafik produktivitas kerja.
Menguraikan sumber daya manusia, tidak lepas dari manajemen sumber daya manusia itu sendiri. Manajemen sumber daya manusia merupakan aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan agar sumber daya manusia di dalam suatu organisasi dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Salah satu hal yang kongkrit untuk mendorong peningkatan produktivitas sumber daya manusia adalah pendidikan dan pelatihan agar mampu mengemban tugas dan pekerjaan dengan sebaik mungkin.

Selasa, 03 Juni 2014

PENDIDIKAN KEJURUAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Hari Sudrajat (2003) mengemukakan bahwa : “Muara dari suatu proses pendidikan, apakah itu pendidikan yang bersifat akademik ataupun pendidikan kejuruan adalah dunia kerja, baik sektor formal maupun sektor non formal”.

PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sejak tahun 1998, terjadi perubahan yang sangat mendasar terhadap semua aspek kehidupan Bangsa Indonesia. Perubahan itu disebabkan oleh perubahan politik dan tata pemerintahan yang semula bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Dalam pemerintahan sentralistik, hampir semua kebijakan penting dan kendali pemerintahan dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah Daerah, propinsi  dan kabupaten/kota menjadi pelaksana dari kebijakan pemerintah pusat. Pada saat ini fungsi dan wewenang pemerintah daerah lebih besar dalam membuat kebijakan dan melaksanakannnya sesuai dengan variasi potensi,  dan kepentingan pengembangan daerahnya masing-masing.

PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Perhatian terhadap pendidikan anak berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Pengembangan sumber daya manusia berkualitas yang mampu mengantar Indonesia ke posisi terkemuka, atau paling tidak sejajar dengan negara-negara lain pada hakikatnya menuntut komitmen akan dua hal, yaitu: 1) Penemukenalan dan pengembangan bakat-bakat unggul dalam berbagai bidang, dan 2) penumpukan dan pengembangan kreativitas -yang pada dasarnya dimiliki setiap orang- tapi perlu ditemukenali dan dirangsang sejak usia dini.
Seorang anak dikatakan anak luar biasa karena ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan terletak pada adanya ciri-ciri yang khas yang menunjukkan pada keunggulan dirinya. Namun, ‘keunggulan’ tersebut selain menjadi sebuah kekuatan dalam dirinya sekaligus menjadi ‘kelemahan’. Yang dimaksud sebagai kelemahan di sini adalah diabaikannya ia sebagai individu yang memiliki hak sama dalam mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya.

PENDIDIKAN ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai konsep pendidikan bagi orang dewasa dan usia lanjut. Tidak selamanya kita berbicara dan mengulas di seputar pendidikan murid sekolah yang relatif berusia muda. Kenyataan di lapangan, bahwa tidak sedikit orang dewasa dan usia lanjut yang harus mendapat pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal, misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan, kursus-kursus, penataran dan sebagainya. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat, dan strategi membelajarkan orang dewasa dan usia lanjut yang notabene tidak menduduki bangku sekolah.
Dalam hal ini, orang dewasa dan usia lanjut sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa, orang dewasa begitupun juga usia lanjut yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri, bergerak dari ketergantungan pada orang lain seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian. Kematangan psikologi orang dewasa dan usia lanjut sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri (mandiri), bukan diarahkan, dipaksa dan dimanipulasi oleh orang lain.

Pendidikan Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.
PAUD memiliki fungsi sebagai pengembangan potensi, penanaman aqidah dan keimanan, pembentukan dan pembiasaan perilaku, pengembangan pengetahuan dan ketrampilan dasar, serta pengembangan motivasidan sikap belajar yang positif. Sesuai dengan fungsi tersebut, materi program PAUD seyogyanya mencakup berbagai aktivitas yang terarah ke pengembangan segenap aspek perkembangan dan perilaku anak secara menyeluruh dan proporsional sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan individualitas anak, kemajuan ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai masyarakat yang dianut. Sebagai wujud dari tanggung jawab bersama, PAUD diselenggarakan baik secara formal dan nonformal oleh lembaga pendidikan khusus atau secara informal oleh keluarga dan masyarakat.